Malam itu, kopi kita masih panas. bibir gelas juga belum kita basahi. rokok pun masih utuh serta mulut ini belum mengeluarkan asap putih.
Kita duduk berdua berdampingan seperti dua sejoli yang dimabuk cinta. di bawah langit berbintang dan ditengah dinginnya malam.
sudah sekian hari kita tak bertemu, tapi seperti sudah bertahun-tahun lamanya.
ketika bibir ini masih kaku untuk mengayun ke atas. kau malah membuatnya mengayun saat yang sesungguhnya tidak tepat bagiku.
kau selalu membuat mataku sipit, bibirku mengayunkan keatas serta suara falsetto yang melengking tertawa di tengah malam.
entah apa yang kita obrolkan saat itu, saya masih belum tahu. yang aku tahu hanya aku bisa merasakan kebahagiaan dan merdeka.
untukmu sahabatku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar