Rabu, 11 Maret 2015

Selalu ada canda ketika kita bertemu

Malam itu, kopi kita masih panas. bibir gelas juga belum kita basahi. rokok pun masih utuh serta mulut ini belum mengeluarkan asap putih.

Kita duduk berdua berdampingan seperti dua sejoli yang dimabuk cinta. di bawah langit berbintang dan ditengah dinginnya malam.

sudah sekian hari kita tak bertemu, tapi seperti sudah bertahun-tahun lamanya.

ketika bibir ini masih kaku untuk mengayun ke atas. kau malah membuatnya mengayun saat yang sesungguhnya tidak tepat bagiku.

kau selalu membuat mataku sipit, bibirku mengayunkan keatas serta suara falsetto yang melengking tertawa di tengah malam.

entah apa yang kita obrolkan saat itu, saya masih belum tahu. yang aku tahu hanya aku bisa merasakan kebahagiaan dan merdeka.

untukmu sahabatku...

Jumat, 20 Februari 2015

ASU

Se-ASU ASUnya ASU adalah ASU yang makan daging ASU.

Begitulah...

Malam itu, gerombolan asu mulai memenuhi kandangnya. Ketua asu mulai menuangkan arak ke gelas kecil berwarna putih. Lalu ia putar satu demi satu asu-asu itu meminumnya.

Ketawa....
Riang...
Gembira....

Selalu mencari mangsa....

Setelah hampir habis arak itu masuk ke dalam perutnya. Asu yang satu pergi membeli jamu yang katanya bisa membuat dia terbang ke angkasa. Sedang lima asu lainnya menunggu di kandang sembari menghisap sabu dan mengemil rica-rica daging asu.

Tak lama kemudian asu satu tadi datang dan membawa tiga plastik berukuran satu liter jamu yang biasa mereka sebut banyu gendeng. Mereka langsung mencampur dengan puntung rokok dan mengoplosnya dengan body lotion.

Gelas kecil putih tadi kembali memutar sampai jamu yang bisa membuatnya terbang habis. Tak setetes pun tersisa. Tiga mangkok rica-rica daging asu perlahan mulai habis pula.

Asu tadi lalu berteriak sekencang kencangnya...
Selesai meminum dan makan rica-rica daging asu, mereka menaiki motor. Tiga motor dengan enam asu saling berboncengan. Mereka berkeliling menyusuri jalanan malam. Teriak-teriak mencari musuh...

Tak kenal kasihan, Tak mengenal laki ataupun wanita. Yang ada dihadapannya disikat. Jika ketemu laki-laki, Asu itu memukulinya sampai jatuh tak berdaya. Jika mereka ketemu wanita, mereka memperkosanya.



Yogyakarta, 20 Februari 2015


Kamis, 19 Februari 2015

Aku, Luna dan Sebotol Bir

Jreng...
Aku menjajal gitar akustikku yang penuh dengan debu. Sudah lama aku tak menyentuh gitar sejak aku berniat lepas dari dunia musik. Kini setelah lima tahun aku menyentuhnya lagi. Semula jemariku kaku duduk di atas fred. Lalu aku mencobanya berulang kali. Akhirnya jemariku kembali bisa menari-nari menciptakan nada lewat senar gitar yang mengayun lembut nan indah. Kuresapi dalam-dalam petikan gitarku di tengah malam pinggir sungai.

Tercipta sebuah lagu untuk kehidupan. Bersama angin malam aku membuat nada, bersama gemercik air sungai aku membuat lirik, bersama sebatang rokok aku membuat melodi, bersama jangkrik, belalang, nyamuk, katak, ular, ikan dan tumbuh-tumbuhan aku melahirkan lagu. Yang semuanya telah digerakkan Tuhan untuk membantuku.

Aku mulai sadar, bahwa musik itu harus dari hati. Bermusik secara jujur dan tulus. Bukan hanya untuk kepentingan duniawi.

Dari musik, aku mengenal sedih, kecewa, senang, bahagia dan banyak lagi tentang kehidupan. Maaf, aku tak bisa menjabarkan satu persatu karena musik tak bisa dijabarkan.

Setelah dua jam aku gitaran sendiri di pinggir sungai, tak lama temanku Luna datang menghampiri. Ia membawakanku sebotol bir lalu duduk di samping kananku. Ia menenggak botol bir yang dibawanya. Dan ia memintaku untuk mengiringi vokalnya.

Come Together dari The Beatles, lagu pertama kali yang kami bawakan di malam  ini. Luna menyanyi dengan semangat dan mendalam. Entah ia sedang menghayati lagu atau sedang mabuk aku tak tau. Yang jelas, suara vokal dan iringan gitarku menyatu menjadi kesyahduan yang tak akan kulupakan.

Tenggakan demi tenggakan botol bir menghiasi malam ini. Suasana semakin asyik ketika lagu Hey Jude kami bawakan.

Luna adalah vokalisku sewaktu kami masih sama-sama semangat di musik dalam satu band SMA. Ia pernah mendapat juara satu se-Jawa Tengah dalam kategori penyanyi rock wanita terbaik yang diadakan Gubernur dalam acara lomba nyanyi tahunan untuk para pelajar. Dan berkat suaranya pula kami pernah manggung di acara besar tahun baru di kota kami. Kini kehadirannya mengingatkan aku ke masa itu. Apalagi lagu-lagu yang kami bawakan malam ini pernah kami bawakan saat manggung di kafe ataupun acara pentas seni lainnya.

Kami tak sempat ngobrol. Ketika lagu selesai, Luna langsung menyambung dengan lagu-lagu berikutnya. Lagu-lagu itu yang pernah kami bawakan jaman dulu. Seakan ia mengobrak-abrik kenangan yang sudah tersimpan rapi. Aku tak tau maksud Luna. Apa ia ingin mengajakku kembali ke dunia musik atau hanya sekedar reuni kecil-kecilan denganku.

Kami terus berdendang. Sampai tetesan bir dalam botol habis. Lalu ia tiduran di atas pembatas sungai sambil merokok.

Tapi ada satu lagu kesukaan Luna yang belum kami bawakan malam ini. Yaitu "Oh my love" dari John Lennon. Ahh... mungkin ia sengaja tak menyanyikan atau mau menguji aku tentang masa lalu bersamanya di musik. Aku mulai memetik gitarku kembali, aku nyanyikan lagu oh my love. Mulutnya celamitan mengikutiku menyanyikan lagu. Hemm... tapi aku hanya mendengar suaranya di bait pertama sebelum reff. Ia terdiam lama sampai lagu selesai aku nyanyikan. Aku melihatnya... Ia tertidur pulas. Mungkin ia lelah. Lelah dengan dunia musik saat ini. Botol bir yang tak ada isinya ditendang sampai jatuh ke dalam sungai. Ia kembali tidur...



Umbulharjo, 20 Februari 2015

Luka

Dulu aku hanya mengira, mencintaimu sebentar saja. ternyata sampai sepuluh tahun setelah kita berpisah, aku masih mencintaimu. Tentu saja... Aku mencintaimu tanpa jeda.

Sungguh bodohnya diriku ketika kata perpisahan keluar dari mulut manismu aku tak mau mempertahankan hubungan kita. Kini aku hanya bisa menderita setiap terlintas bayangmu di pikiranku.

Barangkali cara merawat luka adalah mengingatmu. Sungguh... setiap aku mengingatmu aku menjadi hancur. Tubuhku lemas dan tak ada semangat untuk hidup.

Yang bisa aku lakukan saat ini hanya berdoa agar Tuhan menyabut rasa cintaku padamu.


*NB: Bukan curhatan, bukan prosa, bukan puisi apalagi sajak. Entah fiksi atau bukan aku sendiri tak tau.

Cicak, Nyamuk, Laba-laba kecil

Brengsek...

Cicak di tembok kamarku lagi onani. Para nyamuk mengintip di sudut kanan atas. Sedang laba-laba kecil pura-pura tak tau.

Aku terus memperhatikan gerak gerik cicak itu. Hanya bunyi detikan jarum jam dinding yang menemaniku malam ini.

Sunyi...

Sepi...

Nyamuk yang bergerombol itu mulai terkekeh-kekeh melihat cicak yang tengah asyik onani pada sepertiga malam ini.

Aku mulai mengambil karet gelang di atas meja kamarku, bekas bungkusan nasi kucing. Aku tarik karet itu lurus ke posisi kemaluan si cicak. Sebelum karet lepas landas menuju kemaluannya. Cicak itu sudah klimaks dengan onaninya. Maninya muncrat sampai ke wajah nyamuk jelek itu. Laba-laba kecil yang semula acuh, kini ia tertawa terpingkal-pingkal melihat kejadian itu.

Cicak kaget. Ternyata selama onani, ia dilihat para nyamuk dan laba-laba kecil. Sedang nyamuk tak terima karena terkena mani cicak. Lalu nyamuk itu memanggil semua teman-temannya dan mengejar cicak. Cicak melarikan diri menerobos langit-langit kamarku. Laba-laba kecil itu masih terpingkal-pingkal sampai suara azan subuh tiba.


Kayen, Pati, 17 Februari 2015

Ben

Terlihat dari mukanya ia anak baik-baik, tak seperti kakaknya yang setiap hari membawa gonta-ganti wanita di kontrakan kami. Ia lebih kalem. Wajahnya tak segarang kebanyakan orang timur. Setiap malam ia tidur sedapatnya karena kamarnya dipakai kakanya bercinta dengan wanita. Ia selalu mengalah dan tak berani melawan kakaknya. Setiap kakaknya memerintahnya, ia selalu siap grak walaupun kadang menggerutu.

Meski terus disakiti, namun ia tak membenci kakaknya. Ia tahu bahwa satu-satunya keluarga yang sama-sama jauh dari orang tua hanya kakaknya. Ia sering rajin sekolah ketimbang kakaknya yang sering bolos kuliah hanya gara-gara paginya ketiduran karena semalaman begadang dengan wanita yang dibawanya. Ia selalu ramah dengan teman-teman kontrakan lainnya. Termasuk denganku. Sering sekali kami melihantnya kelaparan tidur diatas kursi kayu depan kontrakan. Tubuhnya lesu. Wajahnya pucat.

"Ben.. Kamu sudah makan?" Tanyaku

Ternya ia belum makan seharian sampai jam tiga sore ini. Uangnya habis dipinjam kakaknya untuk senang-senang dengan wanitanya. Kakaknya tak pernah tahu dan tak mau tahu tentang keadaan adeknya. Yang ada kakaknya selalu meminta uang kepadanya. Tak jarang ia juga sering disuruh minta uang kepada orang tuanya yang sedang di Nusa Tenggara Timur. Ia selalu tak punya alasan untuk menolak perintah kakaknya. Bahkan ia sekarang jauh lebih beda ketimbang pertama kali aku mengenalnya. Ia lebih sering berbohong kepada orang tuanya. Menelepon minta kiriman sampai meminjam uang dengan teman-teman kontrakan kami. Lagi-lagi yang menghabiskan uangnya hanya kakaknya. Kelakuan kakaknya semakin menjadi-jadi. Ia selalu kalah dengan kakaknya. Ia tak berani melawan. Ia hanya terdiam takut ketika mata kakaknya mulai melotot.

"Ben.. Aku pinjam uangmu, kalau tak punya minta ayah untuk mengirim lagi. Bilang saja untuk membayar SPP dan beli buku."

Sering kali nada keras kakaknya terdengar dibalik tembok kontrakan kami. Dan ia seperti kerbau yang dicocok hidungnya, manut.

Ketika kakaknya tak ada di kontrakan, ia terlihat sedikit senang. Ia juga sering berbaur dengan kami teman-teman kontrakan yang ada di sebelah selatan kontrakannya persis. Tak jarang ia bertanya arti bahasa jawa. Ia sering belajar bahasa jawa dengan kami. Karena mayoritas teman-teman SMA nya orang jawa jadi ia ingin mendalami bahasa jawa.

Hari demi hari ia berkumpul dan belajar bahasa jawa dengan kami. Ia terus berantusias untuk belajar bahasa jawa. Sampai suatu saat ia lulus SMA dan sudah  paham bahasa jawa walaupun tak semuanya.


Teman-teman kontrakan sudah wisuda, termasuk aku. Dan sekarang aku sudah bekerja di suatu perusahaan swasta di Yogyakarta. Kami mulai meninggalkan kontrakan tercinta kami.

Sepuluh tahun tak bertemu, sekarang ia meneleponku. Pertama aku tak tau siapa laki-laki yang meneleponku ini. Ia terus menjelaskan panjang lebar. Akhirnya aku paham. Ia hanya bilang terima kasih kepadaku karena dulu sewaktu masih di kontrakan aku selalu mengajarinya bahasa jawa. Sekarang ia balik ke Nusa bTenggara Timur dan menjadi dosen di salah satu universitas swasta di sana. Murid-muridnya sering diajari bahasa jawa walau ia bukan dosen bahasa jawa melainkan komunikasi.

Aku mencoba menanyakan kabar kakaknya. Ia terdiam. suasananya pun sunyi. Hanya suara hembusan angin yang terdengar dari teleponku ini.

"Ben.. Beni.. Hallo... Ben... Apa kamu baik-baik saja?" Tanyaku
"Aku tak apa-apa mas.." Jawabnya sendu

Suaranya terdengar tersendat-sendat seperti orang menangis. Ia bercerita bahwa kakaknya sudah meninggal karena penyakit HIV/AIDS yang sudah menggerogoti tubuhnya sewaktu masih di Jogja satu tahun setelah aku meninggalkan kontrakan.

Yogyakarta, 28 Jnauari 2015

Senin, 26 Januari 2015

Puisi #3




Lagi-lagi aku mencoba memberanikan diri untuk menulis puisi ini untukmu... walau tak sebagus WS Rendra tapi ini asli dariku untukmu.