Setiap
pagi suara lembutnya selalu aku dengarkan. Ketika bangun tidur, ia selalu melantunkan
beberpa lagu. Walau kadang membuatku jadi terganggu ketika masih lelap. Tapi
entah bagaimana, jika sehari saja aku tak mendengar suaranya, rasanya ada yang
kurang dalam hidup ini. Ia adalah Indi istriku yang aku nikahi dua tahun lalu.
Awal
pertama kami kenalan ketika satu panggung mengisi acara kampus kami. Aku yang
kebetulan membawakan lagu bersama teman-teman bandku dan Indi seorang MC yang
berbakat. Setelah aku selesai manggung, Joni drummerku mengenalkan aku dengan Indi
di backstage. Ia memuji suara dan permainan gitarku di atas panggung. Kami
bercerita banyak di sudut ruangan panitia. Cerita demi cerita terus menyambung.
Hingga acara selesai dan kami pulang. Aku mencoba menawari tumpangan untuk
mengantarnya pulang. Pertama ia sedikit malu, pada akhirnya ia mau menerima
tawaranku. Di dalam mobil, cerita pun kami lanjutkan. Kami saling tukar nomor
telepon.
Hari
demi hari kami isi dengan cerita, entah lewat sms ataupun telepon. Kami mulai
dekat. Hingga suatu ketika kami bertemu kembali di acara pentas seni penggalangan
dana. Untuk kedua kalinya kami satu panggung. Aku dengan bandku dan ia sebagai
MC.
Tepat
14 februari aku dan Indi mengikuti acara muncak yang diadakan anak-anak mapala.
Di perjalanan naik gunung, kami selalu terlihat berdua. Saat ia terperosot
jatuh dan kakinya tergelincir. Aku menggendongnya sampai puncak. Tak ada rasa
lelah jika dekat dengan Indi. Yang aku rasakan hanya bahagia. Di puncak merbabu
itu, aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaanku yang sudah kupendam
selama lima bulan.
“Aku
mencintaimu indi...” Kataku
“Sejak
kapan kamu mencintaiku Luki? Jawabnya kaget
“Tentu
saja ketika pertama kali kita bertemu di acara kampus lima bulan yang lalu”
Sahutku
“Kamu
mencintaiku karena apa?” Tanyanya padaku
“Aku
mencintaimu tanpa karena.” Jawabku tegas
Indi
menerima cintaku di atas merbabu kala itu. Aku loncat-loncat kegirangan hingga
teman-temanku tahu. Mereka mengejekku dengan canda tawanya. Hari itu mungkin
hari paling membahagiakan selama hidupku.
Bulan
demi bulan kami lalui berdua. Mulai dari manggung bareng, muncak bareng sampai
wisuda bareng. Tak jarang kami berdua menjadi sepasang MC maupun duet menyanyi.
Teman-teman lebih mengenalku dengan sebutan duo krangkang. Hingga satu tahun
setelah kami wisuda, kami melangsungkan pernikahan. Sampai sekarang, kami sudah
mempunyai jagoan kecil bernama Nada Sabila.
(Cerita fiksi ini di ikut sertakan lomba cerita mini yang diadakan Bentang Pustaka dalam waktu 30 menit)
Yogyakarta, Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar