Minggu, 25 Januari 2015

Manusia Apatis



MANUSIA APATIS


            Dari tahun ke tahun perkembangan teknologi sangat pesat di Indonesia, termasuk di Pati tempat kelahiranku. Teman-temanku banyak yang mengikuti perkembangan gadged terbaru. sepertinya mereka bersaing karena gadged.

            Setiap bulannya pasti ada aja seri gadged terbaru. Mungkin perusahaan gadged sedang bersaing ketat, se-ketat celana pemandu karaoke.

            Suatu ketika, Aku dan enam temanku yang bernama Majeli, Embut, Doni, Mbendol, Impong, dan Bagus sedang ngopi bersama di warung mbanyol yang tak jauh dari rumahku. Aku tak tau tujuan ngopi mereka dari rumah untuk apa, yang jelas suasana saat ini sangat mencekam. seperti kuburan Belanda. Ke-enam temanku diam membisu, kepalanya tertunduk kebawah dan jari jemarinya olahraga di atas keyped atau pun layar handphone mereka masing-masing.

            Terlihat sekilas, ada yang bermain game, mengedit foto, bbm'an sampai mbukak tutup tombol nganti sempal. Aku jadi merasa canggung sendiri. mereka seperti orang lain yang tak kukenal. Padahal pertemanan kita kira-kira sudah lebih dari delapan tahun. Aku tak tahu mau mengajak mereka bercerita tentang apa. Aku tetap membisu di atas kursi kayu ini. Sepertinya mereka sedang sibuk sekali. aku tak enak mengganggunya.

            Sampai kopi mendarat di meja kami, mereka tetap membisu. Hanya mengaduk sejenak dan kembali sibuk dengan gadgednya masing-masing.

            “Ha.. Nek niat dolanan HP mbok ning omah wae, turonan karo nyetel musik. Kita ngopi itu untuk melepas kepenatan. Kok malah sibuk dengan sendirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar