MANUSIA APATIS
Dari
tahun ke tahun perkembangan teknologi sangat pesat di Indonesia, termasuk di
Pati tempat kelahiranku. Teman-temanku banyak yang mengikuti perkembangan
gadged terbaru. sepertinya mereka bersaing karena gadged.
Setiap bulannya pasti ada aja seri
gadged terbaru. Mungkin perusahaan gadged sedang bersaing ketat, se-ketat
celana pemandu karaoke.
Suatu
ketika, Aku dan enam temanku yang bernama Majeli, Embut, Doni, Mbendol, Impong, dan Bagus sedang ngopi bersama di warung
mbanyol
yang tak jauh dari rumahku. Aku
tak tau tujuan ngopi mereka dari rumah untuk apa, yang jelas suasana saat ini
sangat mencekam. seperti kuburan Belanda. Ke-enam temanku diam membisu, kepalanya
tertunduk kebawah dan jari jemarinya olahraga di atas keyped atau pun layar
handphone mereka masing-masing.
Terlihat
sekilas, ada yang bermain game, mengedit foto, bbm'an sampai mbukak tutup tombol nganti sempal. Aku
jadi merasa canggung sendiri. mereka seperti orang lain yang tak kukenal. Padahal pertemanan kita kira-kira sudah
lebih dari delapan tahun. Aku tak tahu mau mengajak mereka bercerita tentang apa.
Aku tetap membisu di atas kursi kayu ini. Sepertinya mereka sedang sibuk sekali. aku tak enak
mengganggunya.
Sampai
kopi mendarat di meja kami, mereka tetap membisu. Hanya mengaduk sejenak dan kembali sibuk dengan
gadgednya masing-masing.
“Ha.. Nek niat dolanan HP mbok ning
omah wae, turonan karo nyetel musik. Kita ngopi itu untuk melepas kepenatan.
Kok malah sibuk dengan sendirinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar