Terlihat dari mukanya ia anak baik-baik, tak seperti kakaknya yang setiap hari membawa gonta-ganti wanita di kontrakan kami. Ia lebih kalem. Wajahnya tak segarang kebanyakan orang timur. Setiap malam ia tidur sedapatnya karena kamarnya dipakai kakanya bercinta dengan wanita. Ia selalu mengalah dan tak berani melawan kakaknya. Setiap kakaknya memerintahnya, ia selalu siap grak walaupun kadang menggerutu.
Meski terus disakiti, namun ia tak membenci kakaknya. Ia tahu bahwa satu-satunya keluarga yang sama-sama jauh dari orang tua hanya kakaknya. Ia sering rajin sekolah ketimbang kakaknya yang sering bolos kuliah hanya gara-gara paginya ketiduran karena semalaman begadang dengan wanita yang dibawanya. Ia selalu ramah dengan teman-teman kontrakan lainnya. Termasuk denganku. Sering sekali kami melihantnya kelaparan tidur diatas kursi kayu depan kontrakan. Tubuhnya lesu. Wajahnya pucat.
"Ben.. Kamu sudah makan?" Tanyaku
Ternya ia belum makan seharian sampai jam tiga sore ini. Uangnya habis dipinjam kakaknya untuk senang-senang dengan wanitanya. Kakaknya tak pernah tahu dan tak mau tahu tentang keadaan adeknya. Yang ada kakaknya selalu meminta uang kepadanya. Tak jarang ia juga sering disuruh minta uang kepada orang tuanya yang sedang di Nusa Tenggara Timur. Ia selalu tak punya alasan untuk menolak perintah kakaknya. Bahkan ia sekarang jauh lebih beda ketimbang pertama kali aku mengenalnya. Ia lebih sering berbohong kepada orang tuanya. Menelepon minta kiriman sampai meminjam uang dengan teman-teman kontrakan kami. Lagi-lagi yang menghabiskan uangnya hanya kakaknya. Kelakuan kakaknya semakin menjadi-jadi. Ia selalu kalah dengan kakaknya. Ia tak berani melawan. Ia hanya terdiam takut ketika mata kakaknya mulai melotot.
"Ben.. Aku pinjam uangmu, kalau tak punya minta ayah untuk mengirim lagi. Bilang saja untuk membayar SPP dan beli buku."
Sering kali nada keras kakaknya terdengar dibalik tembok kontrakan kami. Dan ia seperti kerbau yang dicocok hidungnya, manut.
Ketika kakaknya tak ada di kontrakan, ia terlihat sedikit senang. Ia juga sering berbaur dengan kami teman-teman kontrakan yang ada di sebelah selatan kontrakannya persis. Tak jarang ia bertanya arti bahasa jawa. Ia sering belajar bahasa jawa dengan kami. Karena mayoritas teman-teman SMA nya orang jawa jadi ia ingin mendalami bahasa jawa.
Hari demi hari ia berkumpul dan belajar bahasa jawa dengan kami. Ia terus berantusias untuk belajar bahasa jawa. Sampai suatu saat ia lulus SMA dan sudah paham bahasa jawa walaupun tak semuanya.
Teman-teman kontrakan sudah wisuda, termasuk aku. Dan sekarang aku sudah bekerja di suatu perusahaan swasta di Yogyakarta. Kami mulai meninggalkan kontrakan tercinta kami.
Sepuluh tahun tak bertemu, sekarang ia meneleponku. Pertama aku tak tau siapa laki-laki yang meneleponku ini. Ia terus menjelaskan panjang lebar. Akhirnya aku paham. Ia hanya bilang terima kasih kepadaku karena dulu sewaktu masih di kontrakan aku selalu mengajarinya bahasa jawa. Sekarang ia balik ke Nusa bTenggara Timur dan menjadi dosen di salah satu universitas swasta di sana. Murid-muridnya sering diajari bahasa jawa walau ia bukan dosen bahasa jawa melainkan komunikasi.
Aku mencoba menanyakan kabar kakaknya. Ia terdiam. suasananya pun sunyi. Hanya suara hembusan angin yang terdengar dari teleponku ini.
"Ben.. Beni.. Hallo... Ben... Apa kamu baik-baik saja?" Tanyaku
"Aku tak apa-apa mas.." Jawabnya sendu
Suaranya terdengar tersendat-sendat seperti orang menangis. Ia bercerita bahwa kakaknya sudah meninggal karena penyakit HIV/AIDS yang sudah menggerogoti tubuhnya sewaktu masih di Jogja satu tahun setelah aku meninggalkan kontrakan.
Yogyakarta, 28 Jnauari 2015
saee...
BalasHapus