Dulu aku hanya mengira, mencintaimu sebentar saja. ternyata sampai sepuluh tahun setelah kita berpisah, aku masih mencintaimu. Tentu saja... Aku mencintaimu tanpa jeda.
Sungguh bodohnya diriku ketika kata perpisahan keluar dari mulut manismu aku tak mau mempertahankan hubungan kita. Kini aku hanya bisa menderita setiap terlintas bayangmu di pikiranku.
Barangkali cara merawat luka adalah mengingatmu. Sungguh... setiap aku mengingatmu aku menjadi hancur. Tubuhku lemas dan tak ada semangat untuk hidup.
Yang bisa aku lakukan saat ini hanya berdoa agar Tuhan menyabut rasa cintaku padamu.
*NB: Bukan curhatan, bukan prosa, bukan puisi apalagi sajak. Entah fiksi atau bukan aku sendiri tak tau.
Asekkk curahatan anu leresna mah ya mas..
BalasHapusMantap
BalasHapus